Kader di Era Digital: Merawat Kehadiran di Tengah Sunyinya Gerakan

Oleh: Mukhlisa
Sekretaris Bidang Kader DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Riau

Di tengah derasnya arus digitalisasi, generasi muda hidup dalam sebuah paradoks yang kian terasa. Media sosial menyediakan ruang ekspresi tanpa batas, mempercepat arus informasi, dan membuka peluang jejaring yang luas. Namun, pada saat yang sama, ia juga menghadirkan jarak dalam ruang-ruang kolektif yang selama ini menjadi fondasi gerakan mahasiswa. Mahasiswa hari ini dapat hadir di banyak platform digital, aktif membangun citra dan narasi diri, tetapi kerap absen dalam ruang pengabdian yang menuntut kehadiran utuh dan konsisten. Kegelisahan inilah yang saya rasakan ketika mengamati dinamika kaderisasi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Sebuah organisasi yang sejak awal kelahirannya tidak hanya dimaksudkan sebagai wadah aktivitas mahasiswa, tetapi sebagai ruang pembentukan kesadaran intelektual, spiritual, dan sosial. Namun, di tengah perubahan zaman, makna kehadiran kader perlahan mengalami pergeseran.
Di banyak organisasi mahasiswa hari ini, kehadiran sering dimaknai secara simbolik. Struktur kepengurusan tersusun rapi, nama-nama tercantum dalam surat keputusan, agenda kerja disusun sistematis, dan setiap aktivitas terdokumentasi dengan baik di ruang digital. Organisasi tampak hidup di layar, tetapi denyut kolektif di ruang nyata justru melemah. Banyak kader hadir sebagai identitas, tetapi belum sepenuhnya terlibat sebagai subjek gerakan. Fenomena ini bukan sekadar persoalan keaktifan individu, melainkan cerminan perubahan cara generasi muda memaknai partisipasi. Budaya serba cepat, instan, dan visual membentuk pola pikir baru: kehadiran dinilai dari visibilitas, kontribusi diukur dari seberapa sering muncul di linimasa. Dalam konteks ini, proses panjang, kerja sunyi, dan konsistensi sering kali kehilangan daya tariknya. Padahal, gerakan mahasiswa tidak pernah lahir dari popularitas. Ia tumbuh dari kesediaan untuk hadir dalam proses yang tidak selalu nyaman, dari keberanian untuk berbeda pendapat, dan dari kesetiaan pada nilai-nilai yang diperjuangkan. Ketika menjadi kader hanya dipahami sebagai status atau pelengkap identitas, organisasi berisiko kehilangan fungsinya sebagai ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan.
Sebagai kader yang diamanahkan mengawal bidang kaderisasi, kegelisahan ini terasa semakin nyata ketika dinamika emosional turut mewarnai ruang organisasi. Di era digital, sensitivitas emosional cenderung meningkat. Kritik mudah disalah artikan sebagai serangan personal, perbedaan pandangan cepat melahirkan jarak, dan diskusi sering kali dihindari demi menjaga kenyamanan. Ruang-ruang yang seharusnya menjadi laboratorium gagasan justru kerap sunyi. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi organisasi mahasiswa yang menjunjung tinggi tradisi intelektual. Sebab tanpa perbedaan dan dialektika, organisasi kehilangan daya kritisnya. Tanpa keberanian menyampaikan gagasan, kader kehilangan ruang untuk bertumbuh. Dalam jangka panjang, yang lahir bukan kader yang matang secara berpikir, melainkan kader yang nyaman dalam zona aman.
Relasi personal antar kader pun menghadapi tantangan serupa. Kedekatan emosional, pertemanan, bahkan konflik pribadi adalah bagian dari dinamika manusiawi yang tidak bisa dihindari. Namun, ketika relasi personal tidak dikelola secara dewasa, ia dapat menciptakan sekat-sekat tak terlihat dalam kerja kolektif. Program kerja tidak lagi dinilai dari urgensi dan dampaknya, melainkan dari relasi antarindividu yang terlibat. Profesionalitas organisasi pun perlahan tergerus. Dalam konteks ini, tantangan kaderisasi hari ini tidak lagi semata soal ideologi, tetapi juga soal adaptasi terhadap perubahan sosial dan budaya digital. Digitalisasi seharusnya menjadi alat penguat gerakan—memperluas jangkauan, mempercepat konsolidasi, dan memperkaya diskursus—bukan pengganti kehadiran. Dokumentasi, publikasi, dan kampanye daring hanya akan bermakna jika ditopang oleh proses nyata di lapangan.
Kaderisasi yang berhenti pada proses formal pelatihan, pengukuhan, atau seremonial tidak cukup untuk menjawab tantangan zaman. Ia harus dilanjutkan dengan pendampingan berkelanjutan yang relevan dengan konteks generasi muda hari ini. Kader perlu dibekali bukan hanya dengan pemahaman nilai, tetapi juga dengan ketangguhan emosional, etika berorganisasi, dan kemampuan mengelola konflik secara dewasa.
Dari kegelisahan ini, ada beberapa ikhtiar yang perlu diperkuat secara serius. Pertama, penegasan ulang makna amanah bagi setiap pengurus dan kader. Menjadi bagian dari struktur organisasi bukanlah pencapaian simbolik, melainkan komitmen etis untuk hadir, berkontribusi, dan bertanggung jawab. Kedua, penguatan pendampingan pascakaderisasi melalui mentoring berkelanjutan, forum refleksi, dan diskusi ideologis yang kontekstual. Pendampingan ini penting untuk menjaga kesinambungan proses kaderisasi, sekaligus menjadi ruang aman bagi kader untuk belajar, bertanya, dan bertumbuh. Ketiga, pembangunan budaya organisasi yang sehat secara emosional dan intelektual. Kritik perlu dibiasakan sebagai bagian dari proses belajar, bukan ancaman personal. Perbedaan pandangan harus diposisikan sebagai kekayaan berpikir, bukan sumber perpecahan. Keempat, pemisahan yang tegas antara relasi personal dan tanggung jawab struktural. Etika berorganisasi perlu ditegakkan agar kepentingan kolektif tidak dikalahkan oleh kenyamanan individual. Profesionalitas kader adalah fondasi penting bagi keberlanjutan gerakan.
Menuliskan kegelisahan ini bukanlah upaya menghakimi siapa pun, melainkan bentuk ikhtiar untuk merawat organisasi agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman. Mencintai gerakan tidak selalu berarti memujinya, tetapi berani merawatnya dengan kejujuran dan refleksi. Gerakan mahasiswa tidak akan kehilangan relevansinya selama kader-kadernya bersedia hadir secara utuh. Hadir dalam proses yang melelahkan, dalam diskusi yang tidak selalu nyaman, dan dalam kerja-kerja sunyi yang jarang mendapat sorotan. Di situlah watak kepemimpinan dan kesadaran sosial sesungguhnya ditempa. Di era digital, tantangan kaderisasi justru menuntut satu sikap yang kian langka kesungguhan. Kesungguhan untuk berproses, kesediaan untuk bertanggung jawab, dan keberanian untuk menempatkan kepentingan kolektif di atas kepentingan personal. Jika kehadiran dapat kembali dimaknai sebagai komitmen, bukan formalitas, maka organisasi mahasiswa termasuk IMM akan tetap menjadi ruang strategis bagi lahirnya generasi muda yang berpikir jernih, bersikap dewasa, dan berpihak pada perubahan sosial.
Dari kehadiran yang utuh itulah, masa depan kaderisasi dirawat. Dan dari kaderisasi yang bermakna, harapan tentang masa depan gerakan akan terus menemukan jalannya. Dari bumi Melayu Riau, kegelisahan ini saya titipkan sebagai pengingat bahwa gerakan mahasiswa hanya akan tetap hidup jika kadernya memilih hadir dengan kesadaran, bukan sekadar tercatat dalam struktur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *